Xiamen Terus Berdenyut...

Kompas.com - 10/06/2011, 11:04 WIB

Hari masih pagi ketika pada pertengahan April lalu kami menjejakkan kaki di Xiamen, sebuah kota pelabuhan yang merupakan ibu kota Provinsi Fujian, China. Perjalanan Jakarta-Xiamen kami tempuh selama lima jam dengan maskapai Air China.

Udara dingin terasa menyergap kulit. Sejenak, kantuk yang menggelayut selama penerbangan menguap bersama dingin. Dua jam setelah mengistirahatkan mata dan merebahkan tubuh yang penat, kami memulai perjalanan untuk mengenal Xiamen.

Sekilas, tak ada yang istimewa dengan Xiamen. Kota yang disebut sebagai pintu gerbang China ini terkesan terlalu tenang. Jalan raya yang lebar, di beberapa ruas hingga tiga sampai empat jalur, hanya dilewati beberapa kendaraan bermotor. Tak tampak kesibukan kota yang padat, lalu lintas yang macet, dan lalu lalang orang yang tergesa menyelesaikan hari.

Dugaan Xiamen bukan kota yang menarik pupus setelah beberapa saat menjelajah sudut- sudut kota Xiamen. Kesimpulan yang paling pas adalah di tengah suasana yang tenang, sesuatu yang besar tengah terjadi di kota yang sejak tahun 1980 telah dijadikan kawasan ekonomi khusus di China.

Kota yang sejak tahun 2006 menjadi sister city dengan Surabaya, Jawa Timur, ini terlihat tengah sibuk membangun.

Pemerintah kota membangun jalan tol, jalan layang, terowongan bawah laut, hotel berbintang, hingga gedung pertemuan. Salah satunya dengan cara mereklamasi laut.

Di kawasan yang berdekatan dengan bandara, sekitar 15 menit perjalanan darat, ”denyut” nadi pembangunan itu terlihat nyata. ”Kawasan ini memang direncanakan menjadi pusat kota baru Xiamen,” ujar Victor Qiu, pemandu wisata dari C & D Travel Xiamen.

Di kawasan baru Xiamen, tak ada permukiman kumuh karena seluruh penghuninya dipindahkan ke luar kota. Sebagai gantinya, pemerintah setempat membangun apartemen.

Sebuah hotel bintang 5 didirikan di kawasan itu untuk menampung berbagai kegiatan berupa event skala besar. Tahun ini, Xiamen direncanakan memiliki 10 hotel bintang 5 yang siap menampung hingga 30.000 tamu.

Selain ngebut dengan berbagai pembangunan, Pemerintah Xiamen juga banyak menerapkan kebijakan yang patut diacungi jempol. Beberapa di antaranya adalah luas kawasan hijau, pengolahan limbah, dan peraturan berlalu lintas.

Saat ini, ketersediaan lahan hijau di Xiamen dipatok sebesar 40 persen dari keseluruhan wilayah Xiamen seluas 1.565 kilometer persegi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pohon yang ditanam di setiap lokasi, terutama di sisi kiri dan kanan jalan. Kawasan industri juga dipindah ke luar kota.

Sisi kiri dan kanan jalanan di Xiamen menyediakan trotoar bagi pejalan kaki yang dirindangi pepohonan.

Taman yang ada di sekitar pantai banyak berhiaskan patung atlet di sepanjang sisi kiri dan kanan taman. Warga biasa memanfaatkan trotoar di sekitar pantai untuk duduk-duduk menikmati sore, menanti matahari tenggelam.

Demi keberlangsungan lingkungan hidup, Pemerintah Xiamen mewajibkan setiap restoran yang berada di pinggir pantai memiliki pengolahan limbah sendiri. Limbah restoran berupa sisa makanan tak boleh dibuang ke laut.

Pemerintah Xiamen juga melarang penggunaan sepeda motor. Peraturan ini sudah diberlakukan sejak 10 tahun lalu. Sepeda motor dinilai terlalu berbahaya dan berkontribusi besar sebagai penyebab kemacetan dan polusi sehingga hanya boleh digunakan di luar kota Xiamen.

Di dalam kota, warga menggunakan transportasi umum berupa bus, mobil pribadi yang jumlahnya tidak terlalu banyak, juga sepeda motor elektrik yang digerakkan dengan aki. Sepeda motor elektrik lebih disarankan karena selain lebih ramah lingkungan juga tidak membahayakan.  (DWI AS SETIANINGSIH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau